Showing posts with label Literatur Ilmu Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Literatur Ilmu Psikologi. Show all posts

Pengertian Adversity Qutient

 Yaa tentu pasti kalian pernah mendengar kata kata ini pada saat kuliah dimata pelajaran Character Building bukan ? yaa pasti. mengapa disetiap fakultas diajarkan materi ini? karena mata kuliah ini sangat penting bagi perkembangan jatidiri seseorang dan kita bisa mengetahui kepribadian dari seseorang, walaupun banyak orang yang mengatakan materi dimata kuliah Character Building ini sulit untuk dipahami. Maka dari itu saya yang diam diam menyukai materi ini, maka saya akan memberikan penjelasan tentang Literatur Ilmu Psikologi, untuk kali ini saya akan membahas tentang Apa itu Adversity Qutient . Berikut penjelasan yang tertampil mengenai pengertian dari Adversity Qutient  dibawah ini :

( Pengertian dari Adversity Quetient )

Pengertian dari Adversity Qutient ( AQ ) bisa dikatakan sebagai kecerdasan Daya Juang sebagai penentu utama kesuksesan. Dalam itu ada yang dikenal dengan istilah "Pendakian". Pendakian dalam pengertian tersebut ialah menggerakkan tujuan hidup kedepan, apapun tujuan itu. Pendakian masing - masing dari orang lain itu bisa berupa seperti : Mendapatkan nilai IPK yang bagus ketika lulus kuliah nanti, memperbaiki hubungan dengan relasi kerja, ingin jadi pengusaha yang sukses, ingin menjadi seorang programmer, Ingin mahir dalam skill yang dia asah, ingin menyelesaikan pendidikan sampai S3, dan masih banyak lainnya. Pendakian yang dimaksud disini tidak terbatas pada seseorang individu saja, didalam organisasi dan tim kerja bergerak ke depan dan ke atas. Program - program peningkatan kualitas secara menyeluruh, langkah - langkah untuk mengantisipasi pertumbuhan, mengurangi waktu siklus, menghilangkan pemborosan, meningkatan inovasi serta ambisi, semuanya adalah usaha - usaha untuk mendaki gunung yang penuh dengan rintangan, banyaknya binatang buas, cuaca yang tidak bersahabat, jurang - jurang yang tak tampak, dan permukann tanah yang mudah longsor.

Adversity Qutient ( AQ ) merupakan penentu utama bagi kesuksesan seseorang untuk mencapai pendakian. Dalam proses pendakian, pasti ada yang namanya hambatan, tantangan, rintangan, dan kesulitan, yang tidak dapat atasi dengan hanya modal kecerdasan intelektual, keterampilan yang tinggi, serta kecerdasan emosional yang tinggi juga. Adversity Qutient akan memperlihatkan bagaimana seseorang mampu mengatasi berbagai macam kesulitan serta tantangan yang akan ia hadapi. orang yang AQ-nya tinggi tidak takut menghadapi tantangan, justru dia mampu mengubah hambatan menjadi tantangan yang menuju peluang kesuksesan. Setiap orang berbeda beda dalam menghadapi pendakian ( dengan berbagai tantangannya ) alias tidak sama. Ada yang langsung berhenti diawal ( Quitters ), ada yang berhenti dan tinggal dipertengahan ( Campers ),  dan sebagian kecil / sedikit dari seseorang yang terus bergerak menuju puncak pendakian / kejayaan ( Climbers ).
Hanya mereka yang memiliki AQ tinggi, berani, ulet, gigih, tahan banting, tekun, tabah, terus berusaha, dan pantang menyerah, yang mampu menembus berbagai macam kesulitan dan bangkit dari segala keterpurukan serta terus bergerak menuju puncak yang tertinggi.

1. Quitters


 

    Jumlah mereka cukup banyak. Banyak dari mereka yang memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur dan berhenti di awal pendakian / mudah menyerah. Mereka lebih memilih ingin meninggalkan impian - impian mereka dan memilih jalan yang mudah alias simpel dan tidak suka dengan istilah yang ribet - ribet. Quitters bekerja hanya untuk mencukupi kehidupannya, daya semangat yang rendah, jarang mengambil resiko, tidak kreatif. Quitters tidak perlu merasa kesepian, karena mereka tidak akan kesulitan menemukan teman yang sejalan dengannya, yang suka membuang buang waktu, yang pemalas hanya bisa menyukai instant ( hasil akhir ) tanpa menikmati proses jatuh bangun dan susah diajak berusaha untuk melakukan pendakian. Quitters cenderung melawan atau lari menghindarinya dalam menghadapi rintangan dan perubahan. Mereka umumnya menggunakan kata - kata yang sifatnya membatasi, yang mengatakan bahwa sesuatu tidak bisa berjalan atau dilaksanakan. Quitters lebih suka mengatakan seperti : "Gak bakal bisa itu sulit", "yaelah percuma aja", "buang - buang waktu aja", "entar - entaran aja ah", "males gua, elu aja dah", susah yaa", "mana bisa", "sudah terlambat", "mustahil", "saya tidak bisa melakukannya", "ribet anjirr", "simpel aja si", "ahh bagen dah", dan lain sebagainya. Quitters tidak mempunyai visi dan keyakinan pada masa depannya dan kontribusi dia sangat kecil cuma hanya mengandalkan seseorang saja. Itulah yang menyebabkan mereka mudah menyerah. Namun dengan bantuanlah, mereka dapat kembali bergerak yang hanya bisa menunggu bantuan dari orang lain tanpa adanya usaha dalam dirinya.

2. Campers



    Jumlah mereka lumayan banyak juga ternyata. Mereka tidak mendaki terlalu tinggi, lalu behenti dan mengakhiri pendakian mereka. Berbeda dengan Quitters, Campers setidaknya telah menanggapi tantangan pendakian tersebut. Mereka mungkin telah banyak mengorbankan banyak hal dan telah bekerja dengan rajin dan ulet samapi dimana ia berhenti. Namun pendakian yang tidak selesai alias tidak sampai target itu dianggap sebgagai "Kesuksesan". Akan tetapi mereka sulit mempertahankan keberhasilan itu tanpa melanjutkan pendakian. yang dimaksud pendakian itu ialah "Pertumbuhan dan perbaikan seumur hidup pada diri seseorang". 
Campers menciptakan semacam "penjara yang nyaman", sebuah tempat yang terlalu enak untuk ditinggalkan. Mereka memiliki pekerjaan yang bagus dan gaji serta tunjangan - tunjangan yang sangat layak. Mereka cukup bahkan sangat puas dengan hal itu. Dan mereka sudah merasa sangat puas jika berada dipuncak pendakian dan merasa sudah saatnya berhenti dan beralih untuk menikmati keadaaan itu. Para Campers adalah "Satisficer", yang merasa puas diri dengan keadaan yang sudah dicapai. Berbeda dengan sebelumnya ( Quitters ), Campers masih terbuka untuk merespon perubahan kecil tetapi menolak untuk perubahan besar yang menurutnya bisa menganggu kenyamanan - kenyamanan yang sudah ia dapatkan. Hal itu bagi mereka lebih mudah daripada melanjutkan pendakian. Bahasa pada Campers lebih banyak bernada kompromi, seperti : "Ini cukup bagus", "Selanjutnya apa yang harus kita lakukan", "Apa syarat minimumnya untuk melakukan pekerjaan itu", "Keadaan mulai tidak membaik", "Lebih baik sampai disini saja", "Menurut anda gimana, kita harus bergerak sekarang","Apa cukup sampai disini saja", dsb.

Intinya, mereka berusaha memberi alasan mengapa pendakian sebetulnya tidak sebagus yang dikatakan orang, yang berarti hal itu sebaiknya harus dihindari saja. Campers mungkin telah menghadapi cukup banyak kesulitan, akan tetapi kesulitan itu yang mendorong mereka untuk mempertimbangkan resiko- resiko dan imbalan -imbalannya, dan pada akhirnya mereka menyerah dan memberhentikan pendakian mereka. Pada dasarnya Campers lebih baik daripada Quitters hanya berbeda sedikit.

3. Climbers



    Adalah sebutan kepada orang seumur hidupnya mengabdikan dirinya pada pendakian. Jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan dengan Quitters dan Campers. Tanpa menghiraukan latar belakang, keuntungan dan kerugian, nasib buruk atau nasib baik, mereka tidak pernah pesimis selalu optimis walaupun banyak yang tidak ingin ikut dengan dirinya, mereka kuat dan tahan banting. Climbers adalah orang yang suka memikirkan kemungkinan yang akan terjadi dan tidak pernah membiarkan umur, jenis kelamin, ras, cacat fisik atau mental, latar belakang kehidupannya serta hambatan lainnya yang meenghalangi pendakian mereka. Hanya Climbers-lah yang menjalani hidupnya secara lengkap. Untuk itu mereka benar - benar memahami arah tujuannya dan bisa menarasak gairahnya dan untuk semua hal yang mereka kerjakan. Mereka tahu bahwa mencapai puncak pendakian itu tidak mudah, maka Climbers tidak pernah melupakan "kekuatan" dari perjalanan yang pernah ia tempuh sebelumnya. dan mengenali anugerah dan imbalan atas pendakian yang telah dilakukan.

Climbers selalu merasa sangat yakin pada sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka. Keyakinan ini membuat mereka bertahan dan sulit ditaklukkan jika menemukan tantangan yang hebat dan besar. Climbers yakin bahwa segalanya akan terlaksana, walaupun banyak dari orang lain yang bersikap negatif padanya dan memutuskan bahwa jalannya sulit untuk ditempuh dan ditaklukan. Climbers terus melakukan intropeksi diri dan terus bertahan walau badai menghadang, sudah merasa lelah, kaki sulit untuk diayunkan. Dengan matang dan bijaksana mereka juga memahami bahwa kadang - kadang perlu mundur sejenak supaya dapat bergerak lebih maju lagi. Mundur adalah strategi baginya yang merupakan bagian alamiah dari pendakian. Para Climbers memiliki keberanian, kedispilinan sejati, ulet, gigih dalam menempuh berbagai macam kesulitan.


Climbers juga manusia biasa yang terkadang muncul rasa bosan, dan lelah dalam pendakian. Mereka juga bisa merasakan sakit hati, kesepian, keraguan karena jarang ada orang yang mau menemani pendakian mereka. Berbeda dengan Campers pada saat berkumpul ia hanya ingin menetap, sedangkan Climbers berada disana untuk mengumpulkan tenaga baru untuk pendakian berikutnya. Climbers menyambut baik tantangan - tantangan yang disodorkan kepada mereka. mereka dengan cepat menuntaskan pekerjaan apalagi ada hal hal yang mendesak datang pada dirinya. Mereka bisa memotivasi diri sendiri, memliki semangat yang tinggi dan berjuang mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Mereka ingin segala sesuatunya terwujud, apa yang ia inginkan harus segera tercapai. Meereka membaktikan dirinya pada pertumbuhan dan terus belajar, belajar dan belajar seumur hidup. Mereka suka dengan prinsip perbaikan. Climbers tidak berhenti pada gelar atau jabatan saja atau dalam pekerjaan, iya tidak hanya ingin mempunyai satu pekerjaan saja, akan tetapi ia ingin mempunyai pekerjaan sampingan dan terus mengasah kemampuannya. Mereka terus mencari cara - cara baru untuk bertumbuh dan berkontribusi, Climbers bekerja sesuai visi, dan segala menemukan cara untuk membuat segala sesuatunya terjadi dan sangat kreatif.

Climbers  dapat menyambut baik resiko yang menyakitkan serta siap menerima kritik pedas dari orang lain, bisa dikatakan Climbers adalah seorang yang tahan banting. Climbers adalah orang - orang yang paling besar menyambut berbagai macam perubahan. Mereka memanfaatkan tantangan yang ditawarkan oleh perubahan untuk terus maju keatas. Climbers berkembang pesat berkat perubahan yang ia hadapi. Mereka berbicara tentang tindakan dan tidak sabar dengan kata - kata yang tidak didukung dengan perbuatan - perbuatannya.


Para Climbers biasa berkata, "lakukanlah", "kalian pasti bisa", "rancanglah strategi", "jangan mau kalah dengan orang lain", "kita mampu bersaing", "jangan lari dan mudah menyerah", "pasti ada jalan", "ayo kita kerjakan","saatnya sekarang betindak","teruslah belajar dan berusaha", dsb. Memang sudah tidak diragukan lagi bahwa Climbers  memberikan kontribusi paling banyak dalam kehidupan karena mereka mewujudkan hampir seluruh potensi diri mereka yang terus berkembang sepanjang hidup mereka. Kesulitan bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan seorang Climbers. Berbeda dengan Quitters dan Campers, Climbers tidak akan melanjutkan pendakian karena kurangnya tantangan. Banyak Climbers yang sudah berada dipuncak yang tinggi mempunyai latar belakang yang suram, atau berasal dari lingkungan yang bergelimang dengan kesulitan. Para Climbers  memahami betul bahwa kesulitan adalah bagian dari kehidupan. Mengindari kesulitan sama dengan menghindari kehidupan.

Seperti itu pembahasan mengenai penjelasan dari Apa itu Adversity Qutient ( AQ ), Jika kalian ( Pembaca ) ada yang kurang paham / mempunyai pendapat yang berbeda dalam mengenai pemahaman dari  Silahkan masukkan komentar dibawah ini mengenai pengertian diatas. "Hatur Nuhun".